Semuanya itu harus memiliki sebuah titik. Ya, titik yang berada pada sebuah ujung dalam mencari sesuatu.
Cinta melahirkan asa yang terbuai pada sebuah hati dan tanya dalam makna yang terasing ketika berlabuh pada sebuah sandaran tanpa raga.
Konotasi sebuah fatamorganapun terlahir dan bertanya riuh dalam keadaan yang terasing namun nyaman.
Sepertinya betul delapan, tak terputus angka itu pada sebuah titik. Namun terlalu nyaman ketika tanpa titik.
Memang harus membuat angka baru agar tidak terpesona pada delapan.
Riuh genderang bertabuhan ketika sebuah sosok terlihat merangkul asa yang tak kunjung nyata (sebenarnya) namun menjadi vital karena harus menjadi. Kemudian pola pikirpun mengarah padanya yang membuat kita lupa siapa kita, ya kita yang terbuai dalam alunan melodi sebuah irama yang cemerlang namun semu. Semu karna tak pernah kunjung menjadi nyata dan keabadian itu menjadi hanya canda belaka.
Terimakasih atas hal yang terjadi kemarin, minggu lalu dan sekarang ini.
Popularity: 6% [?]

Categories
Tag Cloud
Blog RSS
Comments RSS
Last 50 Posts
Back
Void
Life « Default
Earth
Wind
Water
Fire
Light 
hey was wrong papaH,,,,,,,read a reason like everything to be end,,,,,,,dont be sad papaH your relationship right here right now,,,,seng artine HEY ONOK OPO CAK NGETIK TULISAN KOQ KOYOK SENG SAK KABEHANE KATE KIAMAT,,,,GK USAH SEDIH CAK KONCOMU NENG KENE SAIKI,,,,,,YEACH AQ ISO TELUNG BOSO,,,,,HAHAY,,,